Indonesia
review
Tell Me Why

Tell Me Why

Kisah yang otentik dan menyakitkan ini menjadi bukti bakat Dontnod dalam menulis graphic adventure episodik.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan

Dewasa ini, menulis cerita yang penting untuk dikisahkan dan mengadaptasinya menjadi video game merupakan tantangan yang pelik. Dan bukan karena kurangnya studio pengembang yang berbakat, namun karena cerita yang ada di game saat ini mulai mengangkat isu yang sebelumnya tidak terpikirkan atau setidaknya jarang dipakai dan membahasnya dengan tingkat perhatian dan emosi yang sama dengan bentuk media lainnya. Baru-baru ini kita melihat pendekatan tersebut di The Last of Us: Part II, tapi juga di game episodik baru keluaran Dontnod, Tell Me Why, yang kemungkinan sudah kamu pernah baca review episode pertamanya dari kami. Karya terbaru dari studio asal Perancis ini dirilis secara eksklusif untuk Xbox One dan Windows PC. Kisah Tell Me Why dituturkan secara halus dan ahli dengan plot-plot yang saling terkait demi mengeksplorasi berbagai tema dan aspek masyarakat modern yang masih kesulitan menemukan representasi yang layak tanpa bergantung pada stereotip. Masalah fundamental yang dialami sebagian orang yang terpinggirkan dari masyarakat seperti identitas gender, gangguan mental, atau kondisi terlantar, menjadi pembahasan dalam game ini secara dalam dan penuh kesadaran, aspek yang menjadikan Tell Me Why karya yang sungguh berharga dalam ranah hiburan kita.

Terdapat kebutuhan untuk menyampaikan cerita-cerita seperti yang dikisahkan Dontnod di Tell Me Why karena mereka melambangkan cara lain, namun penting, untuk membahas isu yang umumnya diabaikan media tradisional. Kami tidak akan masuk ke rincian ceritanya karena berisiko menjadi spoiler yang dapat menodai pengalaman (sangat) luar biasa yang ditawarkan game ini. Pokoknya, Dontnod berhasil memberikan pandangan ke dalam kehidupan kota kecil yang ternyata menakutkan melalui game dramatis yang memiliki tiga bagian ini. Dontnod melakukannya dengan cara yang terlalu nyata dan otentik sehingga dapat membuat pemain tidak nyaman.

Game ini menghadirkan pengalaman orang-orang yang terkucilkan karena berbeda dari masyarakat umumnya. Misalnya saat mereka harus berhadapan dengan masalah seperti perkumpulan jemaat agamis maupun tersebarnya rahasia mereka di antara warga kota kecil, hingga akhirnya mereka dimaafkan atau disambut demi menghilangkan rasa bersalah para pelakunya. Tell Me Why adalah karya tak kenal ampun yang dihadirkan dari beberapa sudut pandang berbeda, walau ia mencoba memperhalus nuansa kelamnya melalui hubungan erat antara Ronan bersaudara.

Tell Me Why

Satu-satunya titik terang yang bisa kamu temukan di Tell Me Why adalah hubungan antara kedua saudara kembar laki-laki tersebut yang telah terpisah lama dan kini mencoba memulihkan hubungan mereka dan kembali mengenal satu sama lain. Namun itu bukanlah jalan yang mudah karena masing-masing dari mereka membawa beban penderitaan dan ketidakpastian masa lalu di jiwa mereka. Beban ini ditimbulkan malam tak terlupakan saat ibu mereka, Mary-Ann, meninggal. Mereka telah terpisah terlalu lama, terutama di rentang penting dalam hidup mereka seperti masa kanak-kanak saat kepribadian dan sifat seseorang mulai terbentuk. Agar dapat membangun (kembali) hubungan tersebut, atau setidaknya mengupayakannya, Dontnod bergantung pada mekanisme yang sering mereka pakai, yakni pilihan-pilihan (sebagaimana yang mereka pakai di game-game sebelumnya) yang kini memiliki nilai lebih penting lagi karena tidak hanya mempengaruhi keberlanjutan cerita, tetapi juga dalam mengetahui sifat kedua sosok kembar Ronan bersaudara.

Walau mereka sudah dikenal karena kemampuan hebat mereka dalam menulis karakter, ada satu hal yang Dontnod berhasil capai tanpa cela di Tell Me Why: menghindari pemakaian stereotip atau prasangka dalam merepresentasikan karakter mereka. Dibanding memilih jalur mudah atau acuh, studio ini mencoba mendalami kepribadian karakter-karakter gamenya yang tidak mendadak berlebihan atau luar biasa - karena mereka memang orang normal. Mereka manusia dan karena itulah mereka boleh menjadi sosok yang rapuh, kurang ajar, atau bahkan kadang agak menjemukan. Terlepas dari cerita ajaib yang menjadi latar belakang cerita utamanya, hal yang menonjol dari Tell Me Why adalah keandalan mereka membentuk cerita, karakter, dan situasi yang disampaikan, seberapapun menyakitkannya. Sulit untuk tidak menyelami dan berempati berbagai tokoh dalam ceritanya, terutama di saat rahasia-rahasia gelap mulai terungkap.

Aspek lainnya yang layak disorot di Tell Me Why adalah penggunaan environmental narrative (penyampaian cerita melalui lingkungan) yang disusun secara teliti: karena durasinya yang secara keseluruhan cukup singkat (setiap episode membutuhkan 3-4 jam hingga tamat), pemain disarankan meluangkan waktu untuk mengeksplorasi bermacam ruangan di rumah keluarga Ronan atau daerah lainnya yang menjadi latar dari berbagai segmen gamenya. Selain easter egg (referensi tersembunyi) tentang game-game Dontnod sebelumnya, eksplorasi yang dilakukan juga terbukti sangat berguna untuk mengungkap info lebih detail tentang masa lalu kedua saudara tersebut, juga tentang ibu mereka Mary-Ann (serta semua teman dan kenalan yang terlibat ceritanya).

Singkatnya, dari sisi naratif murni, karya baru Dontnod ini bekerja dengan sempurna. Dan menurut kami bahkan lebih elok dibandingkan Life is Strange 2 misalnya yang, menurut pendapat kami pribadi, masih merupakan salah satu karya paling lemah dari studio ini. Kami juga mengapresiasi format tiga episodenya karena berhasil memberikan fokus terhadap konten dari gamenya dengan cara yang benar, tanpa menjadikannya terlalu samar di beberapa situasi. Pacingnya, walaupun sangat lambat di beberapa titik, selalu dikelola dengan benar dan kita tidak akan pernah bertemu momen-momen membosankan yang memenuhi segmen "filler" (tidak penting) yang ada di beberapa game lainnya karya studio ini.

Tell Me WhyTell Me WhyTell Me Why

Dari sisi yang lebih teknis, Tell Me Why merepresentasikan tahapan berikutnya yang lebih baik dibandingkan hasil karya Dontnod baru-baru ini. Kami tidak pernah menemui eror ataupun penurunan framerate, bahkan sebaliknya, gamenya berjalan dengan cukup mulus. Secara artistik, Tell Me Why melanjutkan jalur yang dimulai Life in Strange dan terutama diambil Vampyr, walau dengan gaya yang lebih realistis di beberapa aspek, meninggalkan gaya "cat air" dan agak mentah yang beberapa kali dipakai di game LiS pertama - yang kami lebih suka, kalau mau jujur. Namun, kami pernah membaca bahwa pilihan untuk menggunakan pendekatan visual yang lebih realistis merupakan cara untuk mempererat tema-tema yang ingin disampaikan gamenya, seiring berkurangnya unsur supranatural yang ditemukan di game-game awal, atau setidaknya tidak begitu berpengaruh dalam ceritanya.

"Kekuatan" yang sama-sama dimiliki kakak beradik Ronan, yang memungkinkan mereka untuk kembali mengunjungi kenangan dan masa-masa penting tertentu sebelum kematian ibunya, sebenarnya bukanlah kekuatan khusus, karena lebih merupakan cara bagi alam bawah sadar mereka untuk muncul ke permukaan. Ada perbedaan penting antara apa yang si kembar tersebut ingat dan apa yang ingin mereka ingat dan, sebagaimana yang bisa kamu lihat saat memainkan gamenya, perbedaan itu akan menjadi titik balik penting dalam menentukan akhir dari gamenya. Untuk alasan inilah, sebagaimana kami katakan, menjadi penting bagi pemain untuk mengeksplorasi setiap jengkal lingkungan dalam gamenya, karena petunjuk terkecil sekalipun dapat mengungkap latar belakang penting yang akan berujung kepada konklusi dan pilihan terakhir dari babak final ceritanya.

Tanpa diragukan lagi, Tell Me Why merupakan salah satu karya paling dewasa yang pernah dibuat oleh Dontnod. Studio asal Perancis tersebut menyusun sebuah karya yang mengambil langkah-langkah penting untuk maju dibandingkan sebelumnya, sembari menjaga pondasi yang menjadikan developer ini begitu tenar di genre game petualangan bergambar episodik. Satu-satunya kritik nyata yang dapat kami berikan ke gamenya setelah menamatkannya adalah terhadap aspek musiknya yang tidak berhasil mencapai level game-game sebelumnya dengan soundtrack mereka yang menjadi satu lagi 'karakter utama' hebat dalam gamenya, sedangkan di sini musiknya sekadar menjadi pengiring di latar. Namun kami sangat mengapresiasi format tiga episode yang lebih ringkas ini dan memungkinkan pemain untuk lebih berkonsentrasi terhadap cerita yang ada dan karakter-karakternya, tanpa filler yang tidak diperlukan. Karena bagaimanapun juga, aspek-aspek tersebutlah yang paling penting dalam karya semacam ini.

Kamu sedang menonton

Preview 10s
Next 10s
Iklan
Tell Me WhyTell Me Why
Tell Me Why
08 Gamereactor Indonesia
8 / 10
+
Struktur penceritaan yang sangat mantap dan ditulis dengan baik; karakter yang otentik; format tiga episodenya berjalan baik; gaya artistik yang bagus.
-
Soundtrack yang tidak menjadi "peran utama" dibandingkan game-game sebelumnya.
overall score
ini adalah skor dari jaringan kami. Bagaimana dengan kamu? Skor jaringan adalah rata-rata dari skor setiap negara

Teks terkait

Tell Me WhyScore

Tell Me Why

REVIEW. Ditulis oleh Fabrizia Malgieri

Kisah yang otentik dan menyakitkan ini menjadi bukti bakat Dontnod dalam menulis graphic adventure episodik.



Loading next content


Cookie

Gamereactor menggunakan cookie untuk memastikan kami dapat memberikanmu pengalaman terbaik dalam menjelajahi situs kami. Jika kamu melanjutkan, kami menganggap bahwa kamu menyetujui kebijakan cookie kami.